cocoonfamilysupport.org – Di Nairobi, Kenya, seorang wanita muda bernama Faith, 24 tahun, merasakan tekanan saat bertemu rekan-rekannya di kantor. Meskipun awalnya suasana pertemuan berjalan dengan baik, dia merasa cemas untuk mengungkapkan pendapatnya ketika seorang kolega senior memasukkan namanya dalam konteks yang tidak sejalan dengan pandangannya. Faith merasa tertekan untuk terlihat setuju, karena takut dianggap sulit atau moody dalam lingkungan kerja yang cenderung meremehkan suara perempuan muda.
Kondisi ini sebenarnya mencerminkan fenomena yang dikenal sebagai “likeability labour,” di mana perempuan merasa harus berkompromi untuk dapat diterima dan dihargai di tempat kerja. Penelitian yang diterbitkan oleh McKinsey baru-baru ini menunjukkan bahwa ada kesenjangan signifikan antara jumlah perempuan yang mengisi posisi awal dan mereka yang mencapai posisi manajerial. Di Kenya, misalnya, perempuan mencakup 50% posisi awal di sektor kesehatan dan layanan keuangan, tetapi hanya 26% yang menduduki posisi senior.
Dr. Gladys Nyachieo, seorang sosiolog dari Multimedia University of Kenya, menjelaskan bahwa perempuan sering kali terperangkap dalam pola sosial yang mengharuskan mereka untuk menjadi pengasuh dan mengutamakan kebutuhan orang lain di atas diri mereka sendiri. Hal ini berimplikasi pada cara mereka berinteraksi di lingkungan profesional. Banyak perempuan merasakan tekanan untuk bersikap menyenangkan demi keamanan dan pengakuan di tempat kerja.
Meskipun Faith tidak menantang koleganya, ia mulai berusaha untuk tidak merasa tertekan untuk selalu tampil ramah. Ia mengaku sedang berusaha mengubah pandangannya terkait bagaimana seharusnya perempuan berperilaku di dunia kerja. Dukungan dari mentor seperti Dr. Nyachieo diharapkan dapat membantu perempuan lain untuk lebih percaya diri dan berhasil dalam karir mereka tanpa harus mengorbankan pendapat pribadi.