cocoonfamilysupport.org – Mata uang Iran, yakni rial, tengah menjadi sorotan di tengah ketegangan geopolitik dan kebijakan ekonomi global. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah menerapkan tarif hingga 25 persen terhadap negara-negara yang berbisnis dengan Iran, yang berimplikasi besar bagi perekonomian Iran dan melemahkan nilai tukar rial. Terakhir, rial tercatat mencapai level terendah jika dikonversi ke euro, sebagai dampak dari sanksi yang terus membebani ekonomi negara tersebut.
Dalam praktik sehari-hari, masyarakat Iran lebih sering menggunakan istilah “toman” daripada rial saat bertransaksi. Menariknya, satu toman setara dengan 10.000 rial, yang memudahkan banyak orang untuk melakukan perhitungan harga tanpa harus menyebut angka besar. Hal ini terjadi karena inflasi yang sangat tinggi, mendorong mereka untuk mencari cara yang lebih sederhana dalam transaksi sehari-hari.
Secara resmi, rial adalah satu-satunya mata uang yang diterima di semua transaksi dan dokumen resmi. Namun, fenomena penggunaan toman menciptakan kebingungan, terutama bagi wisatawan dan pengamat ekonomi. Untuk mengatasi kebingungan ini, pemerintah Iran melalui Bank Sentral Iran telah memulai kebijakan redenominasi sejak 2020. Pada 2025 hingga 2026, rencana ini akan dilaksanakan sepenuhnya, di mana satuan mata uang baru adalah toman, yang lebih mudah dipahami.
Beberapa faktor yang menyebabkan lemahnya mata uang Iran antara lain adalah sanksi ekonomi internasional, situasi geopolitik yang tidak stabil, dan inflasi yang signifikan. Ketegangan politik yang sering terjadi juga memengaruhi kepercayaan pasar, sementara pembatasan ekspor minyak membuat pemasukan devisa semakin berkurang.