cocoonfamilysupport.org – Dalam buku terbarunya yang berjudul “Money for Mayhem”, Alessandro Arduino mengkaji isu keamanan di Afrika, terutama terkait dengan penggunaan perusahaan militer swasta. Buku ini menyoroti bagaimana privatisasi militer berkaitan dengan dinamika kekuatan internasional. Melalui riset lapangan dan wawancara langsung, Arduino mengeksplorasi peran aktor dari Rusia, China, dan Timur Tengah yang memanfaatkan ketidakstabilan di benua itu.
Arduino mengungkapkan bahwa Afrika kaya akan sumber daya alam, namun menghadapi tantangan besar akibat ketidakstabilan politik dan kelemahan pemerintahan setelah kudeta. Hal ini menciptakan ruang bagi keberadaan tentara bayaran dan kontraktor, yang sebelumnya telah berperan signifikan dalam perang sipil pasca-kolonial di negara-negara seperti Angola dan Sierra Leone. Saat ini, senjata sewaan ini mendapatkan pengaruh geopolitik yang besar.
Salah satu contohnya adalah Grup Wagner asal Rusia, yang aktif di negara-negara seperti Libya dan Sudan. Setelah kematian pemimpin mereka, grup ini berganti nama menjadi Afrika Corps dan terus menjadi alat pengaruh Moskow di kawasan tersebut. Di sisi lain, perusahaan militer swasta dari Turki juga memainkan peran penting, terutama berkat kemampuan mereka menggabungkan pasukan darat dengan teknologi drone yang telah terbukti dalam perang.
Arduino juga menyoroti peningkatan perusahaan keamanan swasta dari China yang melindungi investasi dan warga negaranya di Afrika. Fenomena ini menciptakan ketergantungan pada kekuatan eksternal sementara menghambat proses rekonsiliasi nasional.
Revolusi dalam perang modern juga terjadi, di mana penggunaan drone dan AI dalam kampanye disinformasi semakin umum. Akan tetapi, ketidakpastian dan ketegangan di kawasan tersebut menunjukkan bahwa tantangan keamanan masa depan akan semakin kompleks dan memerlukan kerja sama internasional yang lebih kuat.