cocoonfamilysupport.org – Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat telah mengakibatkan dampak serius bagi kehidupan masyarakat. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), per 14 Desember 2025, tercatat 1.016 korban meninggal dan 624.670 orang mengungsi. Kerusakan infrastruktur, rumah, dan lahan kerja sangat luas, dengan beberapa desa hampir hancur total dan masih ada daerah yang terisolasi.
Aspek kesehatan menjadi perhatian utama di daerah bencana ini. Penanganan kesehatan dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk pemerintah, organisasi profesi, dan universitas. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) bersama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Universitas YARSI berperan aktif di lapangan. Ada tujuh langkah penting yang harus dilakukan untuk memastikan pelayanan kesehatan berjalan efektif.
Pertama, penanganan penyakit akut yang sudah terjadi di kalangan pengungsi dan masyarakat yang terdampak. Penyakit menular, seperti ISPA dan gangguan pencernaan, menunjukkan angka peningkatan. Selain itu, penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes juga memerlukan perhatian serius. Fasilitas kesehatan di kawasan bencana wajib berfungsi optimal meskipun dalam keterbatasan.
Keempat, risiko kejadian luar biasa penyakit menular perlu diantisipasi karena lebih dari setengah juta orang mengungsi. Hygiene dan sanitasi yang buruk dapat memperburuk kondisi kesehatan. Pengawasan ketat serta deteksi dini sangat penting untuk mencegah penyebaran penyakit.
Selanjutnya, perbaikan fasilitas pelayanan kesehatan yang rusak harus direncanakan dengan baik. Dukungan anggaran dan sumber daya manusia menjadi kunci dalam proses rehabilitasi ini. Masyarakat juga membutuhkan lapangan kerja dan infrastruktur sosial pasca-bencana agar dapat kembali ke kehidupan normal. Upaya komprehensif diperlukan agar derajat kesehatan masyarakat terjaga.